Gitar Sipoholon Riwayatmu Kini

15 Nov

Di era tahun 1970-an hingga tahun 1990-an, wilayah Tapanuli Utara dikenal masyarakatSumatera Utara sebagai salah satu sentra produksi gitar yang cukup akrab dengan konsumen, baik dilihat dari mutu maupun modelnya. Pada masa kejayaannya, industri kerajinan gitar Sipoholon ini telah berkembang cukup baik. Produk gitarnya yang dikenal dengan sebutan Gitar Sipoholon pun sudah terpatri dengan baik di dalam hati para pecinta musik di Tapanuli Utara khususnya, dan di Sumatera Utara pada umumnya.

Sipoholon sebenarnya adalah nama sebuah desa di Tapanuli Utara, Sumatera Utara yang banyak dihuni oleh para perajin gitar yang sangat terampil dan berbakat. Sudah puluhan tahun lamanya para perajin itu menggeluti industri kerajinan gitar kayu dan secara turun-temurun keterampilan membuat gitar dari kayu itu diwariskan kepada generasi penerusnya. Kini setidaknya sudah ada tiga generasi yang melanjutkan industri kerajinan gitar kayu tersebut.

Entah bagaimana awal ceritanya, nama desa Sipoholon itu disematkan sebagai merek dagang (trade mark) dari produk gitar buatan desa tersebut. Menurut penuturan Hutagalung, salah satu pengrajin Gitar Sipoholon, tidak jelas bagaimana sejarah dari Gitar Sipoholon itu. “Yang kami tahu industri gitar ini sudah digeluti secara turun temurun oleh kakek buyut kami dan kini tinggal anak cucunya yang melanjutkan. Kami sendiri sudah generasi ketiga,” kata R. Hutagalung ketika ditemui majalah Media Industri di bengkel kerja alat musik gitarnya di Sipoholon, Tarutung, Tapanuli Utara.

Di bengkel kerja alat musiknya itu, selain membuat gitar, Hutagalung juga membuat alat musik lain seperti keyboard tradisional atau lebih dikenal dengan sebutan poti marende dan bass betot. Namun untuk bas betot dan keyboard, Hutagalung mengaku sudah angkat tangan karena tergilas dengan keyboard dan bass betot modern yang dioperasikan secara elektrik. Bass betot buatan Sipoholon adalah bas betot non elektrik sedangkan keyboardnya digerakkan dengan pedal kaki. “Untuk kedua alat musik ini kami sudah menyerah. Tapi untuk gitar, kami masih bisa bertahan karena masih banyak peminat,” tuturnya.

Selain dikenal sebagai sentra industri kerajinan gitar dari kayu, desa Sipoholon juga dikenal dengan sumber air panasnya yang beberapa diantaranya kini sudah dikembangkan menjadi objek wisata pemandian air panas. Pada saat hari libur khususnya pada akhir pecan, objek wisata pemandian air panas di Sipoholon mulai banyak dikunjungi wisatawan domestik dari wilayah sekitar Tapanuli Utara. Tentu saja, pengembangan industri pariwisata ini dapat juga dimanfaatkan untuk mempromosikan industri gitar kayu di Sipoholon.

Untuk membangkitkan kembali industri kerajinan gitar dari kayu itu, Hutagalung sangat berharap ada uluran bantuan modal, apakah dari pemerintah atau dari kalangan perusahaan perbankan. Untuk memenuhi permintaan pasar selama ini, Hutagalung mengaku kewalahan karena tidak mempunyai modal khususnya untuk pengadaan kayu sebagai bahan baku utama.

Menurut Hutagalung, setiap bulan masuk permintaan pembuatan gitar kayu antara 30 sampai 50 unit gitar, baik gitar melodi, klasik maupun gitar bass. Jika pesanan masuk, maka perajin harus sudah siap dengan semua jenis bahan baku, baik kayu yang didatangkan dari Sibolga, Tapanuli Selatan serta seluruh peralatan pendukung seperti lem, amplas dan lain-lain.

Namun karena ketiadaan modal kerja untuk pengadaan bahan baku, sering kali para perajin tersebut terpaksa menolak pesanan sambil menunggu adanya bantuan modal dari keluarga untuk pengadaan bahan baku. Yang paling banyak menyedot modal kerja sebetulnya adalah kayu.

Akibatnya, bengkel pembuat alat-alat musik di Sipoholon kini terpaksa mengerjakan pekerjaan yang kadang-kadang hanya satu unit dalam satu minggu sehingga untuk menghidupi keluarga pun sudah kewalahan. Padahal untuk menjalankan roda usaha yang awalnya dimulai dari usaha keluarga ini, Hutagalung mempekerjakan empat karyawan yang tugasnya menggergaji kayu, memotong dan memoles. Untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan dan ketangkasan khusus seperti memasang cantolan senar dan memasang senar, Hutagalung sendiri yang melakukannya.

Untuk produk gitarnya itu, Hutagalung biasanya menjual dengan harga yang bervariasi dari mulai Rp 400.000 per unit sampai Rp 850.000 per unit. Harga tersebut, menurut Hutagalung, merupakan harga baru yang terpaksa dinaikkan untuk mengimbangi biaya produksi dan biaya hidup yang terus
merangkak naik.

Selain harga bahan baku yang terus membumbung tinggi, gaji empat karyawan pun ikut serta dinaikkan. “Kami sangat kesulitan. Tapi jika sekiranya ada uluran tangan untuk membantu modal kerja, kesulitan hidup kami masih bisa diatasi karena permintaan dari penggemar gitar Sipoholon masih terus mengalir,” tutur Hutagalung.

Para pemilik bengkel gitar Sipoholon juga sangat merindukan produk mereka dapat dipajang di toko-toko alat musik, baik di Tarutung apalagi di Medan sebagai kota provinsi. Itu juga yang selama ini menjadi mimpi Hutagalung, apalagi ketika mereka berjalan-jalan ke kota dan melihat di beberapa toko alat musik terdapat sejumlah gitar dipajang.

Disadur dari Media Industri (No. 05.2008) Departemen Perindustrian RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: